Amarah Nails Lewat You Will Never Be One of Us






Sebelumnya review ini telah masuk di list album of the year, tapi tidak sah rasanya kalau tidak membahas album ini lebih rinci.


Grindcore dan Nihilisme, itulah album Nails yang berjudul You Will Never Be One of Us. Judul album yang cukup panjang bagi band yang bergenre powerviolence grindcore, terkesan ironis memang. Setelah dua album sebelumnya yang terdengar marah, Si botak Todd Jones tidak akan membuat album ini menjadi lebih kalem. Namun mereka memilih untuk menjadi murka pada album ketiga. Ketika single pertamanya yang diambil dari nama yang sama bertajuk You Will Never Be One of Us  dirilis (16/4) lalu, seketika menjadi mimpi basah bagi para pendengar musik keras bertempo cepat ini.

 Album ini berdurasi 21 menit berisikan sepuluh track lagu dan mayoritas tiap lagunya berdurasi satu menit. Beberapa andalan seperti “You Will Never Be One of Us” sebagai trek pertama sekaligus single perdana album ini terdengar begitu bengis, diawali dengan beberapa tamu dalam intro seperti Dylan Walker (Full of Hell), Scott Kelly (Neurosis), Jacob Bannon (Converge) serta John Baizley (Baroness) mengucapkan judul lagu tersebut, lalu secara tiba-tiba all hell break loose!. Trek kedua berjudul “Friend To All”, lagu bertempo cepat ala crust punk yang berdurasi 0:45 detik ini adalah lagu yang durasinya paling pendek di album ini. Selanjutnya “Life is a Death Sentence”  membuktika mereka adalah Napalm Death worshipper dan diiringi dengan lirik yang membuat kita tersadar bahwa seharusnya hidup untuk disesali. Berikutnya, single kedua “Savage Intolerance” yang lebih cocok sebagai soundtrack untuk para ormas bigot. Lalu “In Pain” yang sebelumnya sudah dirilis sebagai Decibel Flexi Series, namun dengan versi berbeda lewat iringan solo gitar yang "Slayer-esque". Dan trek terakhir, Jones menambahkan “They Come Crawling Back” yang begitu doomy dengan durasi terpanjang dalam discography mereka, persetan dengan tuduhan plagiat untuk lagu ini karena ini adalah lagu penutup yang epic.

Album diproduseri oleh Kurt Ballou (Converge) ini sangatlah solid, tidak hanya dari segi produksi, Namun eksperimen struktur lagu seperti perubahan tempo dalam beberapa lagu bisa menyebabkan mosh pit tak terkendali jika dibawakan. Maka jangan heran apabila kalian seketika babak belur jika datang untuk menonton mereka secara langsung. Dalam departemen lirik, mereka pun tetap setia membawakan tema kebencian, amarah dan nihilisme. Bila Nietzsche masih hidup, mungkin dia akan mendengarkan album ini.


Comments

Popular posts from this blog

Abrasive Void and Nietzschean Mayhem within Okkultokrati's La Ilden Lyse

Full of Hell dan Toserba Musik Metal