The 11 Best Albums Of 2016
Tahun
2016 pun sudah mau berakhir, Rutinitas akhir tahun seperti biasanya mengulas
kembali apa saja yang sudah terjadi. Khususnya portal musik professional,
tradisi membuat daftar album paling berkesan setiap tahunnya menghasut kita untuk pro review seperti
kebiasaan mereka. Padahal blog ini hanyalah blog amatiran biasa, bukan sesuatu
yang luar biasa. Alhasil, rekan saya selaku kontributor yang belum pernah membahas apapun di blog
ini tiba - tiba menghubungi saya bahwa sudah membuat list album terbaik tahun
ini versinya. Pada akhirnya saya juga ikut serta, dan terjadilah. Penasaran? Silahkan cek daftar album
terbaik versi kami berikut ini:
11. Metallica – Hardwired… To Self-Destruct
Album yang menyebalkan, bukan masterpiece dari Metallica. James Hetfield dan kawan-kawan tetap berusaha relevan dengan trek seperti “Hardwired” dan “Spit Out the Bone”, sisanya? Medioker!. Namun anehnya album ini tetap saya putar berulang-ulang. Menyebalkan bukan?
10. King Gizzard &The Lizard Wizard – Nonagon Infinity
Stu McKenzie terus berkarya, kita kali ini dibawa kealam sembilan sudut tak terbatas, psychedelic rusuh bergemuruh tanpa henti. Album kali ini mengulangi kesuksesan mereka sewaktu album “I’m In Your Mind Fuzz”, dimana satu album yang berisikan sembilan trek ini saling terhubung satu sama lain, malah terasa dimedley. Saya yakin, setidaknya mereka mengkonsumsi ganja sewaktu membuat album ini.
9. Wormrot – Voices
Mereka menjadi Grindcore Ambassador untuk Earache Records dengan slogan plesetan, “Make Earache Grind Again”. Saya belum pernah mendengarkan Wormrot sebelumnya, namun ketika mendengar single “Fallen into Disuse”, saya yakin mereka adalah my kind of grind. Pernah merasakan ditampar berkali-kali dalam waktu 26 menit? Coba dengarkan album ini!
8. Bin Idris – Self-titled
Setelah melakukan tausiyah psychedelic dengan Sigmun tahun lalu, Haikal Azizi merilis solo album. Entah kenapa karyanya selalu terasa relijius, walaupun dia tidak bermaksud seperti itu. Di album ini lagu-lagunya terkadang terdengar seperti Bimbo, tiba-tiba menjadi folk, bahkan blues. Walaupun menurut saya terasa tidak berkonsep, namun rilisan ini wajib kalian dengar agar kalian lebih sopan ketika berkendara.
7. Bolzer – Hero
Duo asal Swiss ini lebih memilih menjadi atmospheric, mereka meninggalkan sisi progressive metal mereka. Terasa aneh pada awalnya ketika mendengar album ini pertama kali, apalagi untuk fans mereka yang konvensional. Tak kenal maka tak sayang, saya pun tetap mencoba mendengarkannya ketimbang membaca opini orang lain dan saya mendapatkan jawabannya. Mau tahu jawabannya? Keberadaan mereka di daftar inilah jawabannya.
6. Abbath – Abbath
Untuk yang masih terbawa atmosfir Son of
Northern Darkness dari Immortal, Pasti akan suka dengan rilisan terbaru dari
Eikemo tahun ini. Trek seperti “Ashes Of The Damned”, “Fenrir Hunts”, dan
“Eternal” mengingatkan kembali kepada Immortal di masa lampau. Tentunya Abbath
yang baru dibentuk oleh Eikemo pada tahun 2015 lalu juga tidak kalah garang. Jika
kalian mendengarkannya berulang - ulang akan terasa seperti dalam medan perang bertarung
bersama prajurit - prajurit Viking, Seru!
5. Avhath – Hymns
Setelah merilis cukup banyak album split dengan
beberapa band, Kuintet blackened crust asal Jakarta, Avhath akhirnya merilis
album pendeknya yang bertajuk Hymns. Album yang berisikan trek – trek
kebengisan dan kegelapan seperti “I. Blood Moon Rising”, “II. The Putrefied”, “III.
The Aftermath”, dan “IV. The Solipsist” memberikan letupan luar biasa di
telinga kalian. Diawali dengan “I. Blood Moon Rising” percampuran riff black
metal dengan d-beat punk dan diakhiri sempurna oleh “IV. The Solipsist” yang dibumbuhi
atmospheric post metal. Vokal yang terasa seperti George Clarke menyanyikan
lagu dengan lafal yang jelas, membuat saya semakin senang memutarnya berkali - kali. Percaya atau tidak kalian akan orgasme mendengarkannya.
4. Kvelertak – Nattesferd
Erlend Hjelvik dan kawan - kawan juga tidak mau kalah, Pasukan black & roll asal Stavanger Norway, Kvelertak kembali merilis album ketiganya yang bertajuk Nattesferd. Album Meir sangat sukses membawa harum Kvelertak tepatnya tiga tahun lalu. Hits - hitsnya seperti “Bruane Brenn”, “Evig Vandrar”, “Undertro” dan “Kvelertak” terbilang mengagumkan. Meskipun album Nattesferd tidak sesukses Meir, tetapi Nattesferd merupakan kesempurnaan mencampurkan kedua genre black metal dengan rock & roll dalam satu ritme. Pada beberapa trek seperti “1985”, “Nattesferd”, “Bronsegud” dan “Svartmesse” terdengar sekali rock & roll yang begitu kental. Namun, ada satu trek andalan yang membuat saya terpesona yaitu “Bersekr”. Komposisi luar biasa dari tembang “Bersekr” terdapat riff - riff thrashy sehingga membuat kombinasi dengan thrash metal hingga akhir lagu. Erlend memang seniman yang jenius, This is so Erlend!. Pasti kalian tidak akan menyesal memutarnya berulang - ulang.
3. Alcest – Kodama
Album kelima dari band post blackgaze asal Perancis, Alcest yang bertajuk Kodama mempunyai konsep berlatar Jepang. Atmosfir dalam album ini berkesan impresif dan bernuansa kontemporer terinsipirasi dari film fantasy Princess Mononoke karya Hayao Miyazaki. Beberapa trek seperti “Kodama”, “Eclosion”, “Je Suis D’Ailleurs”, “Oiseaux De Proie”, dan ditutup oleh “Onyx” mendeskripsikan perpaduan antara black metal, post rock dan shoegaze. Tekstur lagu pada album Kodama terdengar agak berbeda dengan sebelumnya. Petikan - petikan gitar shoegazing menonjolkan bahwa Kodama layak sebagai karya mengagumkan dari sebuah band. Kota yang terikat dengan fashion itu memang tidak jarang mengeluarkan karya - karya mengesankan. Jika kalian senang dengan seni kontemporer tentunya wajib mendengarkan Kodama.
2. Nails - You Will Never Be One of Us
Jika Voices dari Wormrot terasa ditampar, Nails malah lebih mirip bogem mentah dari Mike Tyson. Album ini cepat, gahar, brutal membuat semua orang menjadi gempar! Maaf saya tidak bermaksud menyanyikan theme song Kera Sakti. Kalau kalian benci mendengarkan atasan kalian marah, coba dengarkan amarah Si botak Todd Jones di album ini, worth it!
1. Darkthrone – Arctic Thunder
Kali ini duo True Norwegian Black Metal asal
Kolbotn Norway, Darkthrone telah kembali ke studio rekaman yang ke-16 nya untuk
menghidupkan ranah black metal. Yeah, The Cult Is Alive Again! Jika kalian
sering mendengarkan Transilvanian Hunger, A Blaze in the Northern Sky, dan Under
a Funeral Moon sedikit berbeda dengan Arctic Thunder. “Tundra Leech”, “Boreal
Fiends”, “Inbred Vermin”, ”Arctic Thunder”, “Throw Me Through the Marshes”,
“Deep Lake Trespass” adalah trek - trek andalan. Riff black metal yang kental
cukup raw sangat mengikat setiap trek dari album ini. Menurut Fenriz, Ia mendapatkan inspirasi untuk mengerjakan Arctic Thunder selama sedang berkemah, sangat jelas pada cover album menggambarkan tema perkemahan. Saya rasa anggota pramuka tidak pernah merasa foto perkemahan adalah sesuatu yang mengerikan. Namun, logo darkthrone mengubah imej itu. Yea, Persami never been so metal when Darkthrone's logo included. Mengutip Fenriz di dokumenternya Until The Light Takes Us, "And I said, This is fucking black metal, man!"












Comments
Post a Comment